Thursday, August 19, 2010

KELOLA WAKTU ANDA JIKA TIDAK INGIN GAGAL

Ismet Ali (*)
Master Coach Soft Skills

Kehidupan pribadi dan profesional pada dasarnya sama seperti kita mengikuti balapan. Apakah pada lintasan yang belum jelas (offroad) ataupun balapan pada lintasan yang sudah jelas seperti di vellodrome formula one.
Waktu memang musuh bagi seorang profesional, karena waktu merupakan satu sumberdaya yang tidak akan pernah tercukupi. Sekali waktu berlalu, dia tidak akan kembali lagi.
Setiap manusia mendapatkan waktu 24 jam per hari dan 365 hari per tahunnya. Akan tetapi beberapa profesional merasa hampir-hampir tidak punya waktu, bahkan untuk makan siang sekalipun. Sementara orang lain memiliki begitu berlimpah waktu yang bisa digunakannya baik menyelesaikan tujuan pribadi maupun target profesionalnya.
Kemampuan mengelola waktu (Time Management) ini biasanya membedakan antara manager SMART dan manager kebanyakan. Gambaran sinis mengenai hal ini sering kita dengar dari kalimat : ”bagaimana mampu mengelola orang lain kalau mengatur waktu sendiri saja tidak mampu ?
Kebanyakan kita mengelola waktu seperti seadanya saja. Kenyataannya kita memang jarang mengelolanya walaupun tahu bahwa kita harus mengelolanya dengan baik. Kita biasanya membiarkan diri dikuasai oleh pekerjaan ketimbang melakukan pekerjaan berdasarkan tahapan prioritas mana yang harus dikerjakan lebih dahulu. Kita lebih memilih banyak bekerja dari pada mengetahui waktu yang kita miliki untuk bekerja efektif. Kita lebih sering berpikir menyediakan waktu untuk orang lain yang menginginkan kita menyelesaikan permasalahannya yang seharusnya bisa mereka kerjakan sendiri. Kita tidak fokus pada penyelesaian pekerjaan penting kita.
Agar penggunaan waktu efektif dan efisien, maka kita perlu membuat check list penggunaan waktu setiap hari. Kebiasaan ini akan membuat kita bisa menghargai diri dalam penggunaan waktu yang semakin efektif setiap harinya. Ada 3 cara yang bisa digunakan dalam melakukan pengunaan waktu yang efektif.
Pertama, memotong beberapa tugas tertentu. Biasanya setiap hari kita mempunyai beberapa tugas yang perlu kita selesaikan. Agar waktunya cukup dan hasilnya baik maka anda perlu menentukan dulu kriteria pekerjaan itu apakah : mendesak atau penting. Saran yang bisa diberikan adalah potong pekerjaan-pekerjaan yang tidak mendesak. Selesaikan dulu yang mendesak baru pekerjaan yang penting.
Kedua, bekerja lebih efisien. Setiap profesional harus tahu berapa rate bayarannya per jam. Caranya gampang, jumlahkan pendapatan selama setahun, kemudian ditambahkan bonus atau komisi yang biasa anda dapat setiap tahun dan dibagi 230 hari kerja efektif setelah dikurangi cuti dan liburan. Angka itu selanjutnya dibagi 8 jam perhari. Jadi dari angka itu anda akan mendapatkan angka rupiah per jam. Agar semakin efisien maka anda harus meningkatkan kecepatan bekerja dibandingkan tahun, bulan dan hari sebelumnya.
Ketiga, merencanakan penggunaan waktu. Perencanaan yang baik dan benar adalah setengah dari kesuksesan. Oleh karena itu agar sukses terjadi setiap hari, maka perencanaan waktu harus dibuat setiap malam. Dampaknya akan sangat baik, karena saat bangun pagi kita akan sangat fokus terhadap gerakan tubuh kita. Kalaupun dalam perjalanan waktu terjadi sesuatu yang diluar rencana, maka kita akan cepat bisa melakukan antisipasi untuk segera kembali ke rencana kita semula.
Perencanaan pengelolaan waktu memang sepele, akan tetapi kesuksesan biasanya dibangun dari hal-hal yang sepele.
(Tulisan ini telah diterbitkan di Rubrik Konsultasi Soft Skills dalam Harian JogloSemar)

Lolos Wawancara Kerja


Metta Paramita

Psikolog SDM


Tanya :
Saya seorang sarjana syari'ah, bagaimana sikap kita sebenarnya waktu tes wawancara yang benar?NN, 085 727 374 XXX
Jawab :
Wawancara kerja saat ini merupakan salah satu aspek penting dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Bagi anda sebagai pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepada anda untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan, dan ketrampilan yang anda miliki untuk meyakinkan perusahaan bahwa anda layak untuk melakukan pekerjaan yang ditawarkan. Jika di dalam CV (Curriculum Vitae) anda bisa mengklaim bahwa anda memiliki kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang baik, maka dalam wawancara anda diberi kesempatan untuk membuktikannya.
Supaya anda tidak gugup atau grogi dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara, jawablah pertanyaan wawancara dengan menyusun jawaban mencakup 4 (empat) hal, yaitu : (1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2) menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil untuk merespon situasi yang terjadi, (3) menceritakan hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang dipetik dari kejadian tersebut (apa yang dipelajari).
Berikut tips menjalani wawancara kerja :
§ Pastikan anda sudah tahu tempat wawancara
§ Gunakan pakaian yang bersifat formal, bersih dan rapi
§ Usahakan untuk tiba 10 menit lebih awal, jika terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara)
§ Ucapkan salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para pewawancara dan jabatlah tangan dengan erat (tidak terlalu keras namun tidak lemas)
§ Tetaplah berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk. Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang
§ Persiapkan surat lamaran dan CV anda
§ Lakukan kontak mata dengan pewawancara
§ Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan yang dilamar dan pada perusahaan
§ Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul
§ Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi
§ Tunjukkan apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada anda
§ Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada anda.

Selamat mengasah Soft Skills anda agar sukses mensiasati wawancara kerja !
(Tulisan ini telah diterbitkan di Rubrik Konsultasi Soft Skills dalam Harian JogloSemar)

BAGAIMANA MEMIMPIN: AGAR TETAP EKSIS ?



Ismet Ali (*)
Master Coach Soft Skills

Negara tercinta ini akhir-akhir mengalami krisis kepemimpinan. Buktinya setiap pemilihan pemimpin ditingkat OSIS di SMA atau BEM di universitas, sangat sedikit yang berminat menjadi pemimpinnya. Selain jumlah yang berminat rendah, kualitas kepemimpinannya juga terbatas. Contoh lain lagi, sulitnya mencari kepemimpinan partai yang mempunyai integritas lahir-batih, walau yang berminat banyak, tapi kualitas kepemimpinan yang mampu membuat visi, misi dan nilai-nilai kunci organisasi menjadi kenyataan adalah sangat sedikit.
Banyak kita bisa merasakan kepemimpinan itu ada atau tidak. Kita juga bisa mengatakan perbedaan antara kepemimpinan yang baik dengan kepemimpinan yang buruk. Akan tetapi kita sulit menjawab ketika pertanyaannya ”apa ciri-ciri kepemimpinan yang efektif itu ?”
Secara sederhana, kepemimpinan adalah mengelola manusia. Kita tidak bisa mengelola manusia seperti mengelola 4 sumberdaya lainnya seperti: uang; material; metoda; dan mesin. Mengapa? karena setiap manusia itu unik. Bahkan 2 manusia yang berasal dari yang rahim sama saja bisa memiliki DNA dan sifat-sifat yang berbeda. Dalam mengelola manusia kita tidak bisa mengabaikan agama. Sangat perlu mempertimbangkan perasaan dan budaya. Sedangkan 4 sumberdaya lain bisa dikelola lebih cepat, administratif dan nyaris tanpa perlu mempertimbangkan perasaan.
Dalam kehidupan profesional, kompetensi kepemimpinan (Leadership Competency) sangat diperlukan untuk menjamin pencapaian hasil pekerjaan kita. Kita harus menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain, dan tentunya dengan bantuan sumberdaya lainnya. Singkatnya sebagai profesional kita perlu menjadi Leader sekaligus Manager.
Bagaimana sih caranya kalau kita ingin menjadi pemimpin yang efektif ? Banyak cara dan teori kepemimpinan baik versi barat maupun timur. Tetapi pengertian kita lebih penting, bahwa tidak ada satu cara yang bisa membuat seseorang menjadi pemimpin efektif.
Agar menjadi pemimpin yang efektif dilingkungan pekerjaan, kita memang harus memiliki kemampuan agar mampu berpikir, berbicara dan bertindak berbeda pada lingkungan yang berbeda. Kemampuan kepemimpinan ini dapat dilihat dari 3 gaya, yaitu: 1). Mengarahkan (Directive), dimana anda mengatakan dan orang lain melakukan. 2). Konsultasi (Consultative), menggerakan orang lain, agar terlibat dalam keputusan yang anda ambil. 3). Pendelegasian (Delegatory), meminta orang lain terlibat melakukan sebahagian tugas anda menjadi pertanggungjawabanya.
Seorang profesional sangat penting memahami pemakaian ketiga gaya ini. Derajat efektifitas ketiga gaya sangat dipengaruhi oleh kontek dan lingkungan dimana kita memimpin. Bila gaya Directive dominan, maka kita kelihatan terlalu ”nge-Bossy”. Sedangkan bila terlalu banyak konsultatif, tampak kita lamban dan kurang cerdas. Terakhir, jika gaya pendelegasian dominan, orang lain akan mengatakan bahwa tidak kepemimpinan, karena yang mengambil keputusan adalah bawahan.
Efektifitas kepemimpinan terletak pada menggunakan kombinasi ketiga gaya dengan derajat yang sesuai. Kapan harus menggunakan kombinasi gaya itu tinggi, sedang atau rendah dari ketiga gaya tersebut. Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu; kenyamanan anda dan orang lain; jenis tugas yang harus diselesaikan; dan tidak melanggar ketentuan profesional organisasi tempat kita bekerja.
Kita perlu berlatih untuk memiliki kepemimpinan efektif agar tetap eksis.

Tuesday, July 27, 2010

KOK NGGAK PE-DE YA ?


Metta Paramita
Psikolog SDM


Saya lulusan D3, saya ingin tanya bagaimana membuat diri saya agar lebih pe-de terhadap lingkungan baru di dunia kerja nantinya.
Terimakasih, 085 642 045 XXX

Jawaban :
Terimakasih atas pertanyaannya. Mengenai permasalahan “tidak pe-de”, saya yakin hampir setiap orang pernah mengalaminya. Memang, menjadi tidak percaya diri akan sangat mengganggu terlebih ketika dihadapkan pada situasi baru seperti lingkungan pekerjaan.
Yang dimaksud PD atau kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri, alias “sakti”. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.

Dalam dunia kerja nantinya, anda akan mendapatkan program orientasi kerja (induction training). Program ini dimaksudkan untuk memperkenalkan anda sebagai karyawan baru dengan peranan atau kedudukan anda, dengan organisasi dan para karyawan lain di perusahaan tersebut. Biasanya penanggungjawab kegiatan orientasi kerja ini adalah departemen personalia ataupun atasan langsung anda (misal ; supervisor). Tujuan lain dari orientasi kerja ini adalah untuk membantu karyawan baru agar dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja baru (fit in with the job situation).

Berikut tips agar rasa percaya diri anda tetap selalu ada baik untuk masa sekarang ataupun di lingkungan kerja nantinya. 1). Belajar menilai diri sendiri secara objektif dan jujur. Buat daftar “harta” pribadi, seperti potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, prestasi yang pernah diraih, ataupun keahlian yang anda miliki saat ini. 2). Sadari potensi anda dan hargailah sekecil apapun keberhasilan yang anda raih. 3). Positive thinking. 4). Buat mantra diri yaitu kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri, misal “SAYA BISA!”. 5). Belajar membuat tujuan hidup setiap harinya. 6). Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada TUHAN YME atas segala nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada anda setiap hari.

Jika anda dapat melatih tips di atas, anda akan mendapatkan kembali rasa Pe-De itu. Satu hal perlu diingat baik-baik adalah jangan sampai anda mengalami over confidence atau rasa percaya diri yang berlebih-lebihan. Rasa percaya diri yang overdosis bukanlah menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat.

Bangkitkan rasa percaya diri dengan selalu mengasah Soft Skills anda !


(Tulisan ini telah diterbitkan di Rubrik Konsultasi Soft Skills dalam Harian JogloSemar pada 26 Mei 2010)

BUAT KEPUTUSAN AGAR ANDA PROFESIONAL ?


Ismet Ali (*) Master Coach Soft Skills

Hidup tanpa Keputusan
Pernahkah anda merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa keputusan ? Misalnya setelah anda mengikuti suatu interview seleksi karyawan pada suatu perusahaan. Setelah itu tidak ada keputusan dari perusahaan itu apakah menerima atau menolak anda. Anda harus menunggu tanpa kepastian ? Kehidupan tanpa keputusan ini tentu tidak nyaman,karena tanpa kepastian.

Sebenarnya setiap saat dalam kehidupan kita setiap hari adalah hasil keputusan (Decision Making) . Misalnya, setelah bangun tidur jam 6 pagi kita harus apa? Apakah harus mandi dulu atau harus makan dulu?. Walaupun kegiatan ini sederhana, namun tetap membutuhkan keputusan. Jika kita tidak membuat keputusan maka kita tidak akan makan ataupun mandi sampai jam 8 pagi. Akibatnya kita akan terlambat sampai di kampus ataupun di kantor.

Setelah kita mampu membuat keputusan, maka tahap yang penting berikutnya adalah bagaimana membuat keputusan benar dan salah. Bila kita membuat keputusan yang salah biasanya kita akan kehilangan kekuatan moral dan menurunkan kepercayaan diri (Self Confidence) kita untuk bisa berperan sebagai seorang professional. Karir dan masa depan menjadi tidak pasti. Sebaliknya, bila kita membuat keputusan yang benar, akurat dan cepat maka kita akan mendapatkan kepuasan dan lebih percaya diri

Membuat Keputusan tidak Sulit
Agar kehidupan kita menjadi lebih pasti maka kita harus mampu membuat keputusan bagi hidup dan profesionalisme kita. Semakin tepat dan cepat kita membuat keputusan maka semakin pasti kita menentukan arah kehidupan yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu tahu cara yang mudah membuat keputusan.

Pertama; mengenali faktor pendorong kepentingan yang berasal dari nilai (Values) dan keyakinan (Beliefs) yang ada didalam hati nurani kita. Nilai dan keyakinan yang berada dalam hati adalah yang tidak terbantahkan. Misalnya, kalau kita curang, maka lambat atau cepat orang lain akan tahu dan kita akan merasakan penderitaannya. Oleh karena itu kita tidak akan mampu membuat keputusan benar bila didalamnya terkandung kecurangan,karena itu bertentangan dengan hati nurani dan keyakinan kita.

Kedua; Kita harus mempunyai gambaran jelas mengenai tujuan hidup dan profesionalisme yang kita inginkan. Bila kita mempunyai gambaran jelas mengenai hal ini maka kita akan mudah membuat keputusan yang benar, akurat dan cepat.
Ketiga, Kita harus mampu membuat keputusan saat ini juga. JIka tidak maka orang lain akan membuat keputusan untuk hidup kita. Keputusan orang lain tentu akan lebih menguntungkan nilai dan keyakinan orang tersebut. Akibatnya, mereka akan menggiring kita kepada pencapaian sasaran dan tujuan hidup mereka. Tujuan hidup kita tidak tercapai, bahkan bisa kehilangan keyakinan mencapai tujuan hidup kita. Kehilangan keyakinan berarti kehilangan kebahagian hidup kita.

Guna mengendalikan hidup secara benar, maka kita perlu membuat keputusan mengenai
hidup kita sekarang juga. Selanjutnya mengetahui bahwa keputusan itu dapat membantu kita mencapai target kehidupan dan target professional kita.
Jangan pernah takut membuat keputusan. Keputusan yang benar terjadi setelah kita membuat keputusan salah. Kita perlu selalu berlatih mengambil keputusan. Motivator Tony Robbin mengatakan: ketika kita membuat keputusan maka kita mempunyai kejelasan dalam hidup. Kemampuan membuat keputusan merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki agar seseorang mampu menjadi profesional.


(Tulisan ini telah diterbitkan di Rubrik Kiat Menjadi Profesional dalam Harian JogloSemar pada 23 Mei 2010)

Monday, July 26, 2010

KOMUNIKASI PERSUASIVE : APAKAH ANDA PROFESIONAL ?


Ismet Ali (*)
Master Coach Soft Skills


Mengapa Komunikasi Penting?
Dalam kasus yang ekstrim, efektivitas komunikasi dapat membuat perbedakan situasi antara hidup atau mati. Contohnya ketika salah komunikasi terjadi, sebuah pesawat terbang bisa mengalami kecelakaan. Kejadian fatal pada pasien saat dioperasi. Terjadi kecelakaan kerja di industri besar. Apalagi industri yang berbasiskan tenaga nuklir.

Dalam kehidupan bisnis, sering tidak kita sadari bahwa bisnis kita kurang berkembang sebenarnya bisa disebabkan oleh komunikasi yang salah. Akibatnya rekan bisnis kurang nyaman berhubungan dengan kita. Walaupun produk atau jasa yang kita tawarkan lebih bersaing dibandingkan yang ditawarkan kompetitor.

Terdapat 3 hal umum penyebab timbulnya masalah saat kita berkomunikasi. Pertama, setiap kata diartikan berbeda oleh orang yang berbeda. Misalnya target penjualan 1000 unit diartikan sebagai target atas yang harus dicapai oleh Joni. Sedangkan bagi Edi, 1000 unit adalah target bawah, dan dia berusaha mencapai diatasnya. Kedua, Tidak ada jaminan bahwa pesan yang kita dikirim itu dapat diterima atau dimengerti dengan benar. Hal disebabkan latar belakang pengalaman dan persepsi kedua pihak yang berkomunikasi berbeda. Ketiga, sering terjadi gangguan (distorsi) bila komunikasi harus disampaikan antara satu orang dengan orang lainnya lagi.

Bila kita sering mengabaikan ketiga hal diatas maka jangan heran bila komunikasi yang kita selama ini sulit menjadi efektif. Akibatnya sangat banyak, misalnya kita tidak akan mendapatkan respon sesuai dengan yang kita inginkan. Lebih parah lagi bila kita dianggap tidak profesional dalam berkomunikasi, sehingga orang enggan berhubungan bisnis atau menerima kita sebagai karyawannya.

Komunikasi Persuasive
Terdapat dua hal yang harus diketahui oleh seorang profesional dalam komunikasi. Pertama, Komunikasi efektif terjadi bila kita mengirim pesan dan perasaan kita secara lengkap dan akurat dan lawan bicara kita menerima dan menterjemahkan sama dengan yang kita maksudkan. Kedua, komunikasi efisien terjadi bila komunikasi terjadi dengan pengertian yang sama dalam waktu yang singkat dan sumberdaya yang seirit mungkin.

Bila ingin sukses sebagai profesional, maka kedua hal ini harus dikuasai sebagai dasar melakukan komunikasi persuasive. Para pakar komunikasi, menterjemahkan komunikasi persuasive sebagai komunikasi yang selalu mampu memperjuangkan tercapainya tujuan yang kita inginkan dari lawan bicara. Tentunya tanpa memaksakan kehendak. Jika mampu melakukan komunikasi efektif, maka kitaakan mampu menyampaikan pesan dan perasaan sembari membangun empati lawan bicara sehingga pesan dan perasaan itu menjadi milik lawan bicara.

Agar mahir berkomunikasi persuasive, memang dibutuhkan keterampilan melakukan analisa transaksional selama berkomunikasi. Analisa didasarkan pada posisi lawan bicara, yaitu anak-anak, dewasa atau orang tua. Dalam membangun kompetensi komunikasi, tentu seorang profesional harus bisa melihat posisi yang diambil oleh lawan bicara. Dari posisi itu selanjutnya digiring untuk dapat berkomunikasi pada posisi dewasa-dewasa dengan anda. Dalam posisi yang sejajar dewasa-dewasa ini, maka segala urusan profesional akan dapat dipecahkan secara rasional dan meminimumkan meminimumkan perasaan (emosional) yang cenderung tidak pasti.

Seorang profesional berkomunikasi efektif dan efisien untuk suatu kepastian hidup dan bisnisnya.

(Tulisan ini telah diterbitkan di Rubrik Kiat Menjadi Profesional dalam Harian JogloSemar pada 16 Mei 2010)

Kuliah mau apa ya ?


Metta Paramita

Psikolog SDM


JogloSemar yang baik,

Saya baru keterima di Psikologi UGM. Apa yang musti saya lakukan, supaya selama kuliah nanti tidak sia-sia ya ?

Terimakasih, Vina – Semarang

Jawaban :

Mb. Vina, selamat ya anda diterima di Psikologi UGM, pasti senang dan lega rasanya, dimana teman-teman lain masih sulit mendapatkan kuliah yang cocok.

Kuliah adalah wadah awal (laboratorium dini) dimana anda dapat mengeksplorasi dan mengekspresikan diri (atau istilahnya mengasah kompetensi manajerial anda). Merujuk pada istilah kompetensi yang terdiri dari elemen Pengetahuan (knowledge), Ketrampilan (skill) dan Sikap (Attitude), Nah, di bangku kuliah nanti anda bisa mendapatkan 2 jenis kompetensi. Yaitu kompetensi teknikal sebagai mahasiswa Psikologi (misalnya: anda akan belajar berbagai macam tes psikologi) dan kompetensi manajerial (misalnya, anda akan belajar berorganisasi atau teamwork).

Caranya, pertama, di bangku kuliah nanti, anda akan berinteraksi dengan siapa pun, apakah teman kuliah, teman dari fakultas yang berbeda, dosen, staf/ karyawan kampus hingga ibu kantin atau tukang fotokopi. Melalui mereka, anda bisa belajar banyak dan mengambil manfaatnya. Kedua, salurkan hobi anda ke unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di kampus. Jika anda belum punya hobi, cobalah untuk menjajaki UKM-UKM tersebut, cari info mengenai mereka, ikuti kegiatannya, pasti anda akan menemukan mana diantara UKM tersebut yang cocok dengan diri anda.

Jika anda menekuni kegiatan ini dengan fokus dan komitmen yang baik, anda akan menemukan talent (bakat) anda sebagai modal kerja nantinya. Keseharian kuliah anda pun akan berwarna dan tidak menjemukan. Buat prestasi setiap hari melalui hal-hal kecil tapi nyata. Tabunglah hasil prestasi harian anda, yang pada saatnya tiba nanti, anda akan menjadi seorang sarjana dengan kompetensi akademik dan manajerial yang bagus.

Selamat Kuliah dengan selalu mengasah Soft Skills anda !

(Tulisan ini telah diterbitkan di Rubrik Konsultasi Soft Skills dalam Harian JogloSemar pada 19 Mei 2010)